Sosial Resensi Buku: Mari Belajar Mengendalikan Organisasi

Resensi Buku: Mari Belajar Mengendalikan Organisasi

-

Prof.-Dr.-Eko-Sugiyanto-M.Si_.
Prof.-Dr.-Eko-Sugiyanto-M.Si_.

Manusia selalu berhubungan dengan organisasi. Sejak lahir sampai meninggal, organisasi tidak lepas darinya. Namun, ketika kita sedang berhubungan dengan organisasi, hampir tidak pernah ada pertanyaan atau kepedulian: apakah kita sedang berhubungan dengan organisasi atau tidak?

Sebuah buku ditulis oleh Prof. Dr. Eko Sugiyanto, M.Si., Guru Besar dalam bidang Ilmu Administrasi Publik di Universitas Nasional. Judulnya: Pengendalian Dalam Organisasi.

Buku ini diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan Universitas, Universitas Nasional pada tahun 2016. Menarik untuk dikaji dan dipelajari kembali, pada situasi saat ini. Situasi dimana negara, dan bangsa-bangsa di dunia sedang mengalami pandemi.

Bahwa, kehidupan manusia pada prinsipnya tidak bisa lepas dari organisasi. Namun, tidak semua manusia menyadari keberadaan dirinya di dalam organisasi itu.

Organisasi diterima apa adanya, seolah-olah sudah menjadi bagian dari kehidupan yang tidak terpisahkan. Kita bahkan cenderung lebih sering memperhatikan atribut-atribut fisik yang kasat mata seperti: gedungnya, para pekerjanya, atau produk/jasa yang dihasilkan.

Hal ini terjadi karena organisasi itu sendiri bentuknya tidak kasat mata (invisible) dan abstrak (intangible) sehingga organisasi sering disebut sebagai artificial being.

Seorang objektivis melihat sebuah organisasi sebagai suatu struktur yang nyata. Organisasi adalah sebuah wadah yang menampung orang-orang dan objek-objek; orang-orang dalam organisasi yang berusaha mencapai tujuan bersama.

Bila organisasi sehat, bagian-bagian yang interdependen bekerja dengan cara yang sistematik untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Pengetahuan mengenai organisasi meliputi pengenalan akan struktur atau rancangan apa menghasilkan apa.

Kaum objektivis menekankan struktur, perencanaan, kontrol, dan tujuan, dan menempatkan faktor-faktor utama ini dalam suatu skema adaptasi organisasi. Lingkungan menentukan prinsip-prinsip pengorganisasian.

Kaum objektivis mencari “bentuk terbaik” organisasi berdasarkan kondisi-kondisi lingkungan. Pendekatan ini menyebabkan pencarian kesesuaian optimal antara struktur organisasi dan faktor-faktor tertentu dalam lingkungan, seperti teknologi, situasi, atau ketidakpastian.

Organisasi dianggap sebagai pemroses informasi besar dengan input, throughput, dan output. Sistem terstruktur atas perilaku ini mengandung jabatan-jabatan (posisi-posisi) dan peranan-peranan yang dapat dirancang sebelum peranan-peranan tersebut diisi oleh aktor-aktor. Kaum objektivis memperlakukan organisasi terutama sebagai sebuah unit.

Artinya, mempelajari organisasi adalah mempelajari organisasi keseluruhan. Organisasi adalah suatu entitas yang berfungsi dengan cara-cara tertentu.

Pertanyaannya mungkin menyangkut bagaimana organisasi dapat beradaptasi dengan cara terbaik terhadap lingkungan untuk mengembangkan diri dan keberlangsungan hidup.

Sebagian teoretisi membagi organisasi menjadi bidang-bidang kajian organisasi, lingkungan, kelompok-kelompok, dan individu-ke-kelompok. Namun semua pembagian ini dianggap bagian dari suatu entitas bernama “organisasi”.

Sedangkan kaum subjektivis mendefinisikan organisasi sebagai perilaku pengorganisasian (organizing behavior). Artinya, pengetahuan mengenai organisasi harus diperoleh dengan melihat perilaku-perilaku khusus tersebut dan apa makna perilaku-perilaku itu bagi mereka yang melakukannya.

Struktur penting hanya sejauh struktur tersebut diciptakan dan diciptakan ulang oleh para peserta organisasi. Seorang subjektivis tidak berusaha mengendalikan berbagai kekuatan (struktur, perencanaan, tujuan), namun menerangkan hal-hal tersebut.

Konsep organisasi tidak terbatas pada organisasi besar, tetapi sebuah keluarga dapat dianggap suatu organisasi.

Kaum subjektivis tertarik pada tindakan-tindakan para anggota organisasi dan akibat tindakan-tindakan mereka serta apa makna akibat tersebut bagi mereka.

Dengan demikian kaum objektivis secara khas memandang organisasi sebagai suatu entitas besar dengan suatu struktur kendali yang terdiri dari prosedur dan kebijakan. Sistem tersebut ditata berdasarkan logika untuk mencapai suatu tujuan dan mengandung derajat-derajat otoritas (kewenangan) berbeda pada berbagai tingkat dan juga kegiatan-kegiatan tertentu yang dilakukan oleh individu-individu.

Sebaliknya, kaum subjektivis menganut suatu pandangan yang lebih luas mengenai organisasi. Organisasi sebagai tindakan-tindakan bertautan suatu kolektivitas. Suatu kolektivitas mungkin kecil atau besar, namun aspek pentingnya adalah tindakan-tindakan bertautan dan makna yang diberikan pada tindakan-tindakan tersebut.

* * *

Manusia bukanlah satu-satunya unsur dalam manajemen. Terry mengemukakan teori bahwa unsur dasar (basic element) yang merupakan sumber yang dapat digunakan (available resources) untuk mencapai tujuan dalam manajemen adalah: “(a). Men; (b). Materials; (c). Machines; (d). Methods; dan (e). Money”.

Sementara Peterson mengemukakan teori 3 M (Men, Materials, Money). Perbedaan ini karena unsur “materials” pada teori Peterson meliputi pengertian “materials dan machines” pada teori Terry.

Dalam perkembangannya, selain teori 3 M dan 5 M, dalam dunia perdagangan dikenal unsur dasar yang ke-6 dari manajemen yaitu “markets” (Brantas, 2009:13). Jadi, ada 6 M dari manajemen yaitu: “(a). Men; (b). Materials; (c). Machines; (d). Methods; (e). Money; (f). Markets”. Unsur terakhir ini, Markets/pasar, adalah untuk menjual output dan jasa-jasa yang dihasilkan.

Selain unsur-unsur manajemen, fungsi-fungsi manajemen juga sangat penting dilaksanakan sebagai upaya menggerakkan organisasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Penjelasan umum atas fungsi-fungsi manajemen menurut pendapat para ahli, adalah sebagai berikut:

1. Terry menjelaskan bahwa fungsi-fungsi manajemen meliputi: “Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling”;

Pengendalian Dalam Organisasi meliputi:

a. Planning (P) terkait apa yang harus dilakukan? Kapan? Di mana dan Bagaimana?

b. Organizing (O) terkait dengan kewenangan seberapa banyak? Dan dengan sarana serta lingkungan kerja yang bagaimana?

c. Actuating (A) terkait dengan membuat para pekerja ingin melaksanakan tugas yang telah ditetapkan dengan secara sukarela dan dengan kerja sama yang baik;

d. Controlling (C) terkait dengan pengamatan agar tugastugas yang telah direncanakan dilaksanakan dengan tepat sesuai dengan rencana, dan bila terdapat penyimpangan diadakan tindakan-tindakan perbaikan.

Keempat fungsi dasar ini sangat fundamental dalam tiap proses manajemen karena semacam alat untuk mengingat-ingat (memory device) yaitu “POAC”.

2. Luther Gullick mengemukakan bahwa tugas manajer dalam pelaksanan manajemen meliputi fungsi-fungsi yang dapat dirumuskan dengan memory device yaitu: “POSDCORB”.

POSDCORB adalah singkatan dari fungsi-fungsi dasar: “Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting, dan Budgeting”;

Lantas, bagaimana managemen bisa dilakukan dengan baik dalam mengendalikan organisasi? Terutama, dalam situasi pandemi Covid-19, dimana seluruh aktivitas manusia nyaris terhenti. Lockdown atau social distancing.

Inilah yang menarik, sehingga buku ini bisa menjadi bahan kajian dan studi untuk memahami organisasi, dan bagaimana menggerakkannya dalam sitausi pandemi.(*)

Redaksi
Ideas, stories, thoughts

Komentari

Subscribe to our newsletter

Subscribe info terbaru dari UNAS Press Newsletter langsung ke inbox email

Terkini

Di PLBA, Dekan Fakultas Pertanian Unas Ingatkan Kejayaan Ekonomi Indonesia dari Sektor Pertanian

Fakultas Pertanian Universitas Nasional (Faperta Unas) menyelenggarakan Pengenalan Lingkungan dan Budaya Akademik bagi Mahasiswa Baru di tingkat Fakultas. Ini...

2.710 Mahasiswa Baru UNAS Ikuti Pengenalan Lingkungan dan Budaya Akademik

Sebanyak 2.710 Mahasiswa Baru Jenjang Strata Satu (S1) dan Sarjana Terapan mengikuti pelaksanaan Pengenalan Lingkungan dan Budaya Akademik (PLBA)...

Dekan FEB Unas Tiga Keuntungan Presidensi G20 di Indonesia: Consumption, Investment, Public Economics

Pakar ekonomi, yang juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nasional, Kumba Digdowiseiso menilai bahwa penetapan Indonesia sebagai...

Featured

2.710 Mahasiswa Baru UNAS Ikuti Pengenalan Lingkungan dan Budaya Akademik

Sebanyak 2.710 Mahasiswa Baru Jenjang Strata Satu (S1) dan...

PPI Unas Menangkan Hibah John Templeton Foundation Untuk Program Integrasi Islam dan Lingkungan

Pusat Pengajian Islam Universitas Nasional (PPI Unas), menjadi salah...

You might also likeRELATED
Recommended to you